• Desember 20, 2023
sejarah patung pancoran

Sejarah Patung Pacoran Dan Beberapa Cerita Yang Beredar

Sosok lelaki berotot kekar bersama tangan terulur ke depan slot bet kecil seolah menunjuk ke sebuah arah akan muncul mengerti setiap orang melintasi jembatan layang di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan.
Berbalut awan putih atau langit senja, sosok setinggi 11 mtr. itu, bersama tiang penyangga menjulang 27 mtr. tersebut, jadi panorama yang sejenak mengalihkan perhatian berasal dari sesaknya jalanan di kawasan ini. Orang-orang menyebutnya Patung Pancoran.

“Nama aslinya adalah patung Dirgantara,” kata Hubertus Sadirin, ahli konservatori berasal dari Balai Konservasi Dinas Pariwisata, Sabtu. Patung ini dibikin oleh pematung Indonesia, Edhi Sunarso, terhadap 1964-1965. Dibangun terhadap masa pemerintahan Presiden Soekarno, papar Sadirin, patung ini dibangun untuk perlihatkan kekuatan, kepemimpinan, dan kemegahan Indonesia di udara, di dirgantara. Bila cermat diamati, lanjut dia, wilayah patung ini berada tepat di depan Markas Besar Angkatan Udara.

Pose Bung Karno

Namun, pembuatan patung selanjutnya termasuk melibatkan pada lain keluarga Arca Yogyakarta, perusahaan Pengecoran Patung Perunggu Artistik Dekoratif Yogyakarta pimpinan I Gardono, dan PN Hutama Karya bersama Sutami sebagai arsitek pelaksana. “Model patung ini adalah Bung Karno (Soekarno, red). Beliau memeragakan pose-nya. Namun, wajah patungnya adalah Pak Edhi,” tutur Sadirin.

Patung Pancoran dibikin bersama bahan perunggu. Adapun tiang penyangganya berbahan beton. Total bobot patung ini raih 11 ton. Dengan bahan tersebut, cost pembuatannya pun tak murah, tapi Sadirin tak bisa mengatakan nominal cost yang tepat.

Sekalipun punya filosofi dan arti yang positif serta harapan tinggi akan kedirgantaraan Indonesia, sistem penyelesaian patung sempat terkendala moment G30S terhadap 1965. Apalagi, pas itu situasi kebugaran Bung Karno termasuk terus menurun. “Ini adalah patung paling akhir yang digagas gagasan cemerlang dan idealisme Bung Karno.”

Mitos ujung jari

Beragam mitos pun membalut patung ini. Salah satunya adalah mitos ujung jari. Patung ini berdiri menghadap utara. Jarinya pun menunjuk ke arah yang jauh. Arah jari menunjuk selanjutnya dipercayai oleh {beberapa|sebagian|lebih berasal dari satu} kalangan sebagai penunjuk wilayah kekayaan rahasia punya Bung Karno. Namun, kalangan lain berpendapat arah telunjuk itu mengarah ke Pelabuhan Sunda Kelapa.

Ada pula yang berpendapat ujung jari ini merupakan perlambang sapaan dan sambutan bagi orang-orang yang baru tiba di Jakarta lewat Bandara Halim Perdanakusuma. “Mitos itu bukan berdasar kajian ilmiah,” ujar Sadirin. “Pak Edhi sendiri sempat cerita kalau tidak tersedia indikasi seperti itu. Patung ini kan terdapatnya di belakang markas AU, jadi ya gambarannya untuk memimpin penerbangan Indonesia agar lebih maju,” papar dia.

Patung yang tak rampung

Sadirin mengungkapkan satu perihal kembali yang tak banyak diketahui publik. “Patung ini sesungguhnya belum jadi. Sampai sekarang.” Bila dilihat berasal dari kejauhan, kata Sadirin, patung ini seolah telah sempurna dan tak beda bersama patung karya Edhi lainnya. Patung lain itu pada lain Patung Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat.

Namun, lanjut Sadirin, andaikata dilihat lebih dekat, Patung Pancoran akan muncul permukaannya tetap kasar dan kentara banyak tambalan las penyambung satu anggota bersama anggota lain. “Dulu, ketika membuat patungnya, Pak Edhi mengumpulkan seluruh barang yang terbuat berasal dari perunggu, kemudian dilebur, dan {beberapa|sebagian|lebih berasal dari satu} anggota lainnya disambung. Makanya kesannya jadi kasar,” papar Sadirin.

Baca Juga : Sejarah Partai Nazi Mulai Dari Berdirinya Hingga Pembubaran Dan Masa Kepemimpinan Hitler

Meski menyebut patung itu belum rampung, Sadirin mengatakan tak tersedia rancangan untuk selesaikan patung itu. “Karena berasal dari awal telah begini, maka kita hanya melindungi cagar budaya ini sesuai wujud aslinya,” kata dia.

Selain belum rampung, patung yang satu ini termasuk ternyata tak pernah diresmikan. Saat patung telah berupa seperti sekarang, Bung Karno telah meninggal. “Rencananya, setelah patung dibersihkan, kita akan membuat laporan sekaligus mengajukan gagasan untuk meresmikan patungnya,” kata Sadirin. “Ini kan benda cagar budaya. Jadi, akan lebih baik kalau diresmikan.”