• Januari 13, 2024

Perang Terbesar yang Pernah Terjadi di Indonesia, Merinding!

Kita patut bersyukur bersama kondisi Indonesia sementara ini. Keadaan yang aman dan layak ditinggali seperti saat ini adalah buah kerja keras pejuang di masa lantas dikala berperang untuk kemerdekaan Indonesia. Dengan dedikasi penuh, para pejuang rela mengorbankan waktu, tenaga, harta, atau lebih-lebih nyawa demi mempertahankan negara ini.

Tanpa memandang perbedaan suku, ras, slot dan agama, seluruh kompak bahu-membahu mengangkat senjata di medan perang. Dari sekian banyak perang yang pernah berlangsung di Indonesia, tersebut ini perang terbesar yang berlangsung di Indonesia. Baca sampai habis, yuk!

1. Perang Gerilya Jenderal Soedirman

Perang gerilya dipimpin oleh Jenderal Besar Raden Soedirman, perwira tinggi kelahiran 24 Januari 1916. Strategi perang ini merupakan respons atas Agresi Militer Belanda II. Dalam kondisi lemah akibat penyakit TBC, Soedirman tak gentar untuk konsisten bergerilya melawan penjajah. Bersama sekelompok kecil tentara dan dokter pribadinya, mereka berlangsung jauh melewati hutan, gunung, sungai, dan lembah.

Puncak perang ini berlangsung terhadap pagi hari di tanggal 1 Maret 1949. Serangan besar-besaran ini dikerjakan di seluruh wilayah Indonesia bersama fokus utama di Yogyakarta, ibu kota Indonesia terhadap masa itu. Dalam sementara 6 jam, Kota Yogyakarta berhasil dikuasai oleh pasukan Indonesia dan peristiwa ini dikenang sebagai Serangan Umum 1 Maret 1949.

Sedihnya, sesudah peristiwa tersebut, Soedirman tetap wajib berjuang untuk melawan TBC. Ia dirawat berpindah-pindah, dari Panti Rapih, sanatorium di dekat Pakem, sampai rubah ke Magelang di bulan Desember 1949. Soedirman mengembuskan napas terakhirnya di Magelang terhadap 29 Januari 1950 pukul 18:30 terhadap umur yang relatif muda, yaitu 34 tahun. Selamat jalan, pahlawan!

2. Puputan Margarana

Perang dahsyat juga pernah berlangsung di Bali yang dikenal bersama Puputan Margarana, tepatnya terhadap 20 November 1946. Sang pemimpin perang adalah Kolonel I Gusti Ngurah Rai dan dikerjakan untuk mempertahankan desa Marga dari serangan NICA. Masyarakat Bali berprinsip untuk konsisten melawan, pantang bagi mereka untuk mundur dan menyerah.

Karena prinsip ini, sebanyak 96 orang gugur, juga I Gusti Ngurah Rai. Sementara, di pihak Belanda kehilangan 400 orang akibat Puputan Margarana, lebih banyak dari pihak masyarakat Bali. Padahal, Belanda telah mendatangkan seluruh pasukannya yang berada di Bali plus pesawat pengebom yang didatangkan dari Makassar.

3. Bandung Lautan Api

Bandung Lautan Api adalah peristiwa yang ikonik dan menggetarkan. Pada 24 Maret 1946, 200 ribu masyarakat Bandung membakar rumah mereka, lantas menuju ke pegunungan di selatan Bandung. Tujuannya untuk menahan tentara sekutu dan NICA Mengenakan Bandung sebagai markas strategis militer.

Akibat peristiwa ini, api besar berkobar dan asap hitam mengepul di udara. Strategi ini digunakan karena kebolehan Tentara Rakyat Indonesia (TRI) tak seimbang bersama kebolehan sekutu dan NICA.

Tak tinggal diam, tentara Inggris pun menyerang supaya berlangsung pertempuran sengit di Desa Dayeuhkolot, Bandung. Di sini terdapat gudang amunisi punya tentara sekutu. Lalu, dua anggota milisi BRI (Barisan Rakjat Indonesia) ditugaskan untuk menghancurkan gudang amunisi tersebut. Mereka berdua gugur beserta gudang yang terbakar.

4. Perang Diponegoro

Perang Diponegoro dikenal bersama sebutan lain, yaitu Perang Jawa. Ini adalah perang besar yang berlangsung selama lima th. (1825-1830). Sesuai namanya, perang ini dipimpin oleh Pangeran Diponegoro, sementara di pihak musuh dipimpin oleh Jenderal Hendrik Merkus de Kock.

Dengan prinsip “sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi tekan pati” yang bermakna sejari kepala sejengkal tanah dibela sampai mati, masyarakat Jawa berperang sampai titik darah penghabisan demi melawan Belanda. Imbas dari perang ini, sekitar 200 ribu masyarakat Jawa tewas, sementara pihak Belanda kehilangan 8.000 tentara. Pasukan Jawa banyak yang gugur karena dilemahkan oleh penyakit malaria dan disentri.