• Mei 16, 2024

Merumuskan Taktik Kebudayaan Indonesia

Pembangunan sebuah bangsa bukan cuma membutuhkan bentuk lahiriah. Tetapi juga diperlukan sebuah taktik kebudayaan supaya tujuan-tujuan besar Indonesia bisa terumuskan dengan bagus. Kita tahu apa yang kita lihat dan hasilkan kini yakni output dari sebuah kebudayaan yang hidup di masyarakat.

Dunia bergerak mengalami beraneka perusahan dengan kencang. Tak ada masa sebelumnya seperti dikala ini, di mana teknologi dan ilmu pengetahuan mendukung perubahan dengan kecepatan yang luar umum. Apalagi teknologi kabar yang menolong mempertautkan jarak, membuka sekat-sekat pembatas, memudahkan kehidupan, dan memberi jalan masuk terhadap siapa saja kepada semua kabar.

Pada konteks seperti itulah rakyat Indonesia hidup kini. Poin-skor lama yang pernah menjadi fondasi dasar dari sistem berdaya upaya dan bersikap kali ini mengalami tantangan. Indonesia memerlukan sebuah sistem pandang baru dalam kehidupan sosialnya.

Kebudayaan Indonesia yakni bentuk dari bersatunya elemen-elemen kebiasaan dari beraneka tempat. Kebiasaan Indonesia bukan kebiasaan tersendiri yang berbeda dari kebiasaan tempat yang berjenis-jenis. Merumuskan taktik kebudyaan Indonesia, sama saja dengan mencari jalan bagaimana melestarikan tiap kebiasaan tempat untuk pada hasilnya melebur dalam keindonesiaan.

Dalam motivasi itulah, Kongres Kebudayaan Indonesia (KKI) yang akan digelar 5-9 Desember 2018 dikerjakan. Dasar penyelenggaraan KKI itu sendiri yakni Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 perihal Pemajuan Kebudayaan yang membeberkan bahwa pemajuan kebudayaaan yakni upaya meningkatkan ketahanan kebiasaan dan kontribusi kebiasaan Indonesia di tengah peradaban dunia via perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan.

Setahun sebelum diundangkan, pada 31 Agustus 2016, Presiden Joko Widodo menginstruksikan Menteri Pengajaran dan Kebudayaan untuk membentuk taktik kebudayaan dengan merujuk pada Trisakti, merupakan dengan mengamati bagaimana asas berdaulat dalam politik, mandiri dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan bisa menjadi roh dari pengelolaan kebudayaan nasional.

Motivasi undang-undang juga menjadi dasar perintah Presiden untuk membentuk spaceman slot taktik kebudayaan sebagai pintu masuk penyelenggaraan kongres kebudayaan. Apalagi, sejauh pemberitaan yang aku ikuti, kongres kebudayaan yang akan digelar sudah via suatu progres panjang. Adalah, menghimpun usulan dari masyarakat. Kongres itupun bukan didominasi oleh para spesialis kebudayaan tetapi lebih ditekankan pada pelaku kebudayaan.

Acara dibuka dengan pra-Kongres Kebudayaan Indonesia untuk mengakomodir pembicaraan sektoral 333 pakar dan pelaku kebiasaan yang terbagi dalam 11 forum bidang kebiasaan. Anjuran-saran dari 11 forum hal yang demikian akan melengkapi keseluruhan dari 24 forum dalam tahap Pembentukan Anjuran Stakeholder Kebudayaan untuk Taktik Nasional.

Aspirasi dari tempat-tempat diberi ruang untuk menjadi penyusun taktik kebudayaan. Tertib hal yang demikian yang membedakan penyelenggaraan KKI 2018 dari yang sebelumnya.

Penting untuk dicatat, langkah pemajuan kebudayaan tak selesai dalam tahap taktik kebudayaan. Tahap selanjutnya yakni taktik kebudayaan, sesudah ditentukan jadi Agenda Presiden (Perpres), akan menjadi referensi utama dalam pembentukan Rentang Pembangungan Agenda Menengah (RPJM) atau Rentang Pembangungan Agenda Panjang (RPJP).

Dengan kata lain, kontribusi pemajuan kebudayaan untuk kemajuan lazim yakni untuk membikin kebudayaan sebagai haluan pembangunan Indonesia. Strategi visi akhir dalam memajukan kebudayaan cukup simpel, merupakan menuju Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur.

Hasil dari kongres kebudayaan ini akan menjadi tutorial masyarakat, terpenting untuk tempat provinsi dan kabupaten, yang belum menciptakan kebudayaan sebagai arus utama pembangunan.

Taktik kebudayaan yang dijadikan dalam kongres yakni sebuah rumus kebudyaan yang akan menjawab tantangan dalam negeri ataupun global yang dihadapi Indonesia dikala ini. Pendidikan ikhtisar perihal kebudayaan yang dijadikan, juga bisa menjadi referensi bagi pembentukan agenda pembangunan di tingkat nasional dan tempat.

Kongres ini bertepatan dengan 100 tahun semenjak kongres pertama kali digelar pada 1918. Sebuah kerja besar untuk merumuskan kembali taktik kebudayaan Indonesia, yang pada hasilnya makin meneguhkan karakteristik bangsa Indonesia dalam interaksi dunia.

Acep juga menyinggung upaya penguatan pengajaran karakter yang digembor-gemborkan oleh Kementerian Pengajaran dan Kebudayaan (Kemendikbud). Menurutnya, pengajaran karakter berakar pada kebudayaan, karena karakter yaitu sebuah identitas.