• Juni 7, 2024

Membangun Jembatan Budaya Kolaborasi dengan ITB dan UniKL Motion Graphic

Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB) berprofesi sama dengan Universiti Kuala Lumpur (UniKL) menyelenggarakan Crossing Border through Virtual Stories: Intercultural Narratives with Motion Graphics, pada Rabu (28/2/2024) di Center for Art, Design, and Language (CADL), ITB Kampus Ganesha, Bandung.

Arena ini ialah kolaborasi dari ITB dan UniKL dalam bidang seni. Rencana tersebut dibuka oleh Banung Grahita, S.Ds., M.Ds., Ph.D., dari Kategori Keahlian (KK) Komunikasi Visual dan Multimedia sebagai Ketua Pelaksana. Program kolaborasi ini menciptakan diskusi keunikan dan kekayaan budaya Indonesia dan Malaysia yang disampaikan dalam karya motion graphics visual.

Menurutnya, tiap-tiap tim membawakan karya kolaboratif yang menarik dan inspiratif, yang berkaitan dengan dua negara serumpun ini. Tiap karya yang dijadikan memiliki poin dan keunikan akan kesamaan dari budaya yang dimiliki oleh Indonesia dan Malaysia.

Kolaborasi karya yang dibawakan memiliki bermacam tema budaya seperti makanan tradisional, cerita rakyat, batik, dan mitos di Indonesia dan Malaysia.

“Tiap karya yang dijadikan betul-betul menarik dan membuat kita bisa mempelajari dan paham demo mahjong ways 2 dari perbedaan budaya yang bisa dikolaborasikan menjadi hal yang baik,” ujarnya.

Head of Visual Communication and Multimedia Research Group, Dr. Riama Maslan Sihombing, M.Sn., juga memberikan respon yang positif terhadap ajang ini. Dia mengatakan bahwa agenda tersebut bisa menjadi jembatan perbedaan budaya dari kedua negara.”

“Jembatan kolaborasi ini membuat munculnya kata simbiosis antarnegara dalam perpaduan budaya dan teknologi,” paparnya.

Sementara itu, perwakilan dari UniKL, Prof. Dr. Dahlan bin Abdul Ghani, mengungkapkan terima kasihnya sebab bisa mengerjakan kolaborasi dengan FSRD ITB. Dia mengungkapkan tujuan dari aktivitas ini untuk menggabungkan kedua negara dalam menciptakan aplikasi motion graphics yang mengajar dan memberi kesegaran visual.

Menurutnya, Indonesia dan Malaysia memiliki kekayaan budaya yang kuat dan perlu dijelaskan terhadap dunia luar. Karya yang dijadikan bukan cuma memiliki poin visual tetapi sebagai salah satu bentuk komunikasi budaya antarnegara.

“Program yang betul-betul bermakna dan perlu diteruskan, bisa digabungkan juga dengan lembaga lain baik di sekitar Bandung maupun Indonesia dan Malaysia untuk menambah unjuk kekayaan budaya yang dimiliki,” sebutnya.

Acara berikutnya dilanjutkan dengan exhibition dan projects ulasan lima tim yang ialah gabungan dari mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) ITB dan UniKL-Malaysian Institute of Informastion Technology (MIIT).

Tiap tim memperlihatkan karya kolaborasi yang sudah dilakukan dari tahap online workshop pada bulan Desember 2023 sampai bulan Februari 2024. Judul-judul karya yang ditampilkan pada exhibition, antara lain Sate Kingdom, Sakti, Kliwon, Asian Warrior, dan Batik.

Setelah aktivitas exhibition dilanjutkan pengisian materi oleh Creative Head of The Fox The Folks, Fadjar Kurnia, S.Ds., yang memiliki pengalaman dalam visual animation dan pernah unjuk karyanya pada kompetisi dunia.

Harapannya kolaborasi ini bisa dilanjutkan dengan cakupan lebih luas dengan negara lain yang masih satu rumpun dengan Indonesia dan Malaysia. Sehingga kian banyak dan unik perpaduan budaya yang bisa dikolaborasikan.